Bagaimana Minyak Berkembang Pasca Brexit?

Sejak hari pemungutan suara bersejarah oleh warga Britania Raya terkait Brexit selesai dilaksanakan, minyak Brent di Eropa langsung turun 4%, sedangkan minyak Texas WTI kehilangan 4,2% nilainya. Harga dari kedua merek komoditas tersebut turun sampai di bawah level psikologisnya di $50 barel. Namun, dua hari yang lalu sentimen di bursa global mulai berubah ke arah yang lebih tenang, dan harga minyak pun mulai naik. Brent pada hari Rabu (29/7) naik hampir 1% terhadap penutupan hari sebelumnya.

Prediksi dari bank-bank investasi terkemuka di dunia mengenai harga dan permintaan minyak masih cukup optimis jika melihat dampak Brexit dalam jangka panjang. Para analis dari bank investasi Goldman Sachs dalam ulasan analisisnya menyebutkan bahwa jika PDB Inggris pasca Brexit pada tahun ini jatuh sebanyak 2% – seperti prediksi BoE yang diumumkan sebelumnya – maka konsumsi minyak di Inggris (setelah keluar dari UE) dapat berkurang sebanyak 1% atau 16 ribu barel per hari. Dengan demikian, keluarnya Inggris dari UE tidak akan berdampak signifikan terhadap permintaan minyak dunia, begitu pula dengan harganya.

Menurut pendapat kami, penggerak utama dari permintaan minyak secara global pada tahun ini ialah Cina dan negara-negara Asia lainnya, bukan Inggris yang memiliki hubungan dengan masalah Brexit, yang pada gilirannya, dampak pada permintaan dan harga justru dibesar-besarkan. Kami memperkirakan bahwa keluarnya Inggris dari UE hanya akan lebih memperlambat pertumbuhan ekonomi UE, bukannya Inggris, dan itu pun hanya akan mengorbankan negara-negara yang memiliki perekonomian terlemah (dalam UE). Jerman tidak lama ini memperlihatkan pemulihan ekonomi dengan tempo yang sama seperti Inggris, sedangkan pertumbuhan ekonomi negara ini (Jerman) menghadirkan pangsa maksimum pada pemakaian minyak dan gas di UE. Risiko-risiko yang berpotensi timbul bagi perekonomian UE ini dapat menguatkan nilai mata uang dolar terhadap mata uang-mata uang lainnya di dunia. Namun, penguatan dolar AS (meski) memiliki pengaruh jangka pendek terhadap penurunan harga minyak, tapi kemungkinan besar dapat dijadikan sebagai aset keuangan yang murni psikologis dan lebih dapat diandalkan.

Dalam waktu dekat, isu terkait kenaikan suku bunga di AS mungkin akan ditarik, sebab penurunan euro dan pound terhadap dolar dapat meningkatkan daya saing barang-barang Eropa dan sebaliknya, mengurangi daya saing barang-barang Amerika. Dengan demikian, penguatan dolar yang signifikan dalam waktu dekat adalah hanya sebuah skenario yang mustahil. Ini berarti bahwa minyak akan segera kembali ke up trend. Prediksi kami terhadap harga minyak Brent dalam waktu dekat ini adalah $48,5-50,5 per barel.

Ulasan Terkini

Setiap Orang Memiliki Kesempatan untuk Raih Profit

Anda bisa menghasilkan pendapatan tanpa harus melakukan <i>trading</i> sendiri. Cukup investasikan dana Anda ke akun <i>trader</i> berpengalaman dan raih profitnya!

Daftar