Perencanaan Devaluasi Yuan di Tiongkok: Apa Pengaruhnya?

Di Tiongkok, semuanya berjalan sesuai dengan rencana, kendatipun Tiongkok sudah lama dianggap sebagai negara yang memiliki perkembanganan ekonomi paling pesat di dunia. Adapun “perencanaan” yang dimaksud di sini adalah devaluasi nilai tukar yuan. Selama krisis ekonomi, Tiongkok berulang kali menggunakan instrumen ini dengan tujuan untuk mengurangi biaya ekspor barang mereka, dan membuatnya menjadi lebih kompetitif, serta untuk menghindari deflasi yang berpotensi memberikan masalah yang signifkan bagi perekonomian negara. Akan tetapi, sistem devaluasi menurut Tiongkok ialah Bank Rakyat Tiongkok (PBoC)—yang tak lain adalah regulator utama dalam pasar keuangan Tiongkok—pada mulanya merencanakan untuk mengurangi nilai yuan dengan membeli mata uang asing, kemudian membeli ulang mata uang nasional mereka dengan meningkatkan nilainya. Dengan cara seperti ini, lompatan tajam pada nilai tukar mata uang mereka dapat dihindari.

Sejak awal Mei tahun ini, ketika Tiongkok mulai menjalankan kebijakan “perencanaan” devaluasi, yuan terdepresiasi, tapi menyusut hanya 4,3% terhadap dolar AS. Sebagai catatan, sejak awal Oktober 2016 yuan terus melemah terhadap dolar dan sepanjang Oktober tahun ini, yuan telah kehilangan nilainya sebanyak 1,25%. Pada saat ulasan ini ditulis, 1 dolar AS menawarkan 6,773 yuan, dan tampaknya ini bukan batas terendah dari mata uang Tiongkok.

Devaluasi yuan dapat menguntungkan ekspor

Ketika masih menjabat sebagai Presiden Rusia selama krisis ekonomi 2008-2009, Dmitry Medvedev (kini Perdana Menteri Rusia) mengutarakan bahwa, nilai mata uang nasional harus sesuai dengan proses yang terjadi dalam ekonomi riil. Secara khusus misalnya, ketika harga minyak turun Rusia tidak perlu mempertahankan nilai tukar rubel yang tinggi terhadap semua mata uang cadangan dunia. Lalu, bagaimana dengan Tiongkok? Tiongkok memang merupakan importir terbesar di dunia, tetapi mereka bukanlah eksportir minyak, sehingga harga minyak praktis tidak mempengaruhi perekonomiannya. Lantas, proses ekonomi apa saja yang dilakukan oleh otoritas keuangan Tiongkok untuk mendevaluasi yuan?

Dalam sembilan bulan pertama 2016, PDB Tiongkok mengalami pertumbuhan sebanyak 6,7% (yoy), dan pada kuartal III meningkat 1,8% (qoq). Rusia—yang sedang menjalani resesi—untuk sementara ini hanya mampu menargetkannya saja. Jadi, perbedaan antara Tiongkok dan Rusia tidak hanya terletak pada resesi, tetapi juga laju pertumbuhan PDB yang berada di bawah 6% (yoy). Sebagai negara dengan jumlah penduduk di atas satu miliar orang dan bahkan dengan standar hidup yang relatif rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, Tiongkok hanya mampu menempati peringkat ke-80 di dunia dalam hal PDB per kapita. Oleh karena itu, rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi dapat mengancam perekonomian riil, menutup banyak peluang bisnis, dan pada akhirnya, dapat berdampak pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan.

Namun demikian, pertumbuhan PDB seperti ini di Tiongkok dinilai masih tergolong moderat, meskipun dalam skala internasional cukup tinggi, yang mana mengalami peningkatan sampai 7% dalam sembilan bulan. Untuk diketahui, enam tahun yang lalu Tiongkok sukses membanggakan pertumbuhan PDB mereka yang mencapai 10,4% (yoy). Lembaga statistik pemerintah Tiongkok mengomentari data PDB sembilan bulan ini dengan menggarisbawahi bahwa, pertumbuhan seperti ini tidak dapat dianggap “kuat”, sebab negara masih sedang menghadapi banyak faktor yang belum stabil dalam ekonomi, yaitu dinamika ekspor dan impor.

Pada bulan September, eskpor barang Tiongkok berkurang 10% (yoy), sedangkan impor jatuh sampai 1,9% (jika dibandingkan dengan jumlah ekspor bulan Agustus yang naik sebanyak 1,5%, dan impor bulan Agustus yang turun 2,8%). Neraca perdagangan Tiongkok bulan September berkurang 21%, menjadi 42 miliar dolar AS. Namun, informasi terbaru memperlihatkan bahwa, impor di Tiongkok mulai bangkit kembali, terutama komoditas, yang secara langsung menguntungkan pasar minyak dan ekonomi sejumlah negara berkembang dan maju. Namun, dinamika ekspor yang lemah semakin menekankan bahwa, permintaan pada produk-produk Tiongkok mulai menurun, hal ini terlihat pada harganya yang mulai rendah. Penurunan jumlah ekspor juga dipengaruhi oleh dinamika produksi industri. Pada bulan September, produksi industri di Tiongkok meningkat hanya 6,1% (yoy), meskipun pada bulan Agustus meningkat sampai 6,3%. Dengan demikian, devaluasi yuan pada musim gugur ini mungkin sangat dibutuhkan guna menopang stabilisasi ekonomi negara dan menghidupkan kembali pertumbuhannya.

AS tidak berani mencampuri masalah Tiongkok

Apa dampak devaluasi yuan terhadap negara-negara maju? Semakin meningkatnya daya saing ekspor Tiongkok akan menjadi pukulan berat bagi negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Uni Eropa. Ini akan menjadi faktor negatif bagi perusahaan-perusahaan yang produk-produknya tersaingi oleh produk-produk Tiongkok. Contohnya, Apple tidak lama ini melaporkan bahwa, laba bersih perusahaan pada tahun fiskal 2016 ini anjlok 14,4%, dan pendapatannya pun menurun sampai 7,7%. Penyusutan pendapatan ini disebabkan oleh penurunan penjualan iPhone di Tiongkok, sehingga Apple terpaksa menurukan harga produk-produk andalannya di kuartal IV demi meningkatkan daya saing dengan smartphone murah milik Tiongkok. Dan devaluasi yuan itu sendiri hanya akan meningkatkan daya saing produk-produk Tiongkok dan menciptakan masalah bagi para importirnya.

Otoritas AS cemas melihat sepak terjang Tiongkok di seluruh dunia. Apalagi, jika Tiongkok semakin cepat keluar dari krisis, maka agresivitas mereka tidak akan hanya meningkat pada langkah investasi, tetapi juga “menguasai sumber” beberapa negara khususnya yang tidak mampu melunasi utang publik yang besar. Negara-negara seperti Argentina, Paraguay, Venezuela hampir sepenuhnya tergantung pada Tiongkok sebagai kreditor terbesar mereka. Selain negara-negara ini, Vietnam dan Laos juga merupakan negar-negara yang sangat tergantung pada Tiongkok (pasar dan sistem pemerintahannya). Ekspansi Tiongkok ini telah menjadikannya sebagai negara berstatus “kekuatan regional”.

Namun, AS lebih memilih untuk mengamati ekspansi Tiongkok ini secara “diam-diam”, tanpa mengganggunya. Selain semua status di atas, Tiongkok juga merupakan kreditor terbesar AS, dengan memegang paket obligasi pemerintah mereka secara dominan. Dan jika ketegangan muncul di sini, Tiongkok dapat menjual paket obligasi tersebut di bursa, yang pada gilirannya dapat memompa yield obligasi AS ke level yang terlampau tinggi dan membawa negara ke jurang kebangkrutan, serta meruntuhkan dolar dan menghadirkan krisis ekonomi global. Tiongkok sendiri juga menyadari, bahwa sebagai kreditor terbesar AS, mereka memiliki senjata keuangan yang kuat, dan bila diterapkan, senjata ini bisa disetarakan dengan ledakan nuklir bagi perekonomian global. Dengan demikian, Tiongkok masih menjalankan ajaran kong hu cu dalam kaitannya dengan manajemen utang AS.

Tiongkok tentunya tidak ingin mengeruhkan hubungan dengan Amerika, dan saat ini Tiongkok terus aktif menjalin hubungan perdagangan yang efektif dengan AS dan para sekutu terdekatnya seperti Jepang dan UE. Akan tetapi, di bidang politik dan militer, Tiongkok justru lebih dekat dengan Rusia. Selain itu, hubungan perdagangan yang kuat dengan negara-negara Eropa dapat mempengaruhi posisi Eropa dengan AS dalam perjanjian Kemitraan Transatlantik (TTIP). Eropa sekarang tidak lagi berkomitmen pada penandatanganan perjanjian ini, bukan karena khawatir dengan kedaulatannya (yang telah lama hilang), melainkan karena takut merusak hubungan perdagangannya dengan Tiongkok. Menguatnya ekonomi Tiongkok pasca devaluasi yuan mungkin ke depannya dapat memperkuat posisi Tiongkok di Eropa, termasuk pengaruhnya terhadap ekonomi AS.

Ulasan Terkini

Setiap Orang Memiliki Kesempatan untuk Raih Profit

Anda bisa menghasilkan pendapatan tanpa harus melakukan <i>trading</i> sendiri. Cukup investasikan dana Anda ke akun <i>trader</i> berpengalaman dan raih profitnya!

Daftar

Ada situs web yang lebih cocok untuk kamu

Situs web baru dengan layanan yang lebih sesuai untuk lokasimu baru saja diluncurkan!

Daftar di sini dan dapatkan Bonus Sambutan 30%.