Antara Trading Forex dan Olahraga

Adakah kesamaan umum antara pasar keuangan dan olahraga jika dipandang secara sekilas? Tentu tidak. Ya, bagi sebagian besar orang pasti akan menyimpulkannya secara demikian, tapi jika dikaji dan dipahami secara lebih dalam dengan menyertakan konsep-konsep tertentu, kesamaan itu dapat dimengerti, lalu apa itu? Mari kita ambil contoh sifat atau karakter yang dimiliki seorang trader dan petinju.

Dari mana memulainya? Mari kita mulai dengan teori! Saya yakin tak ada satu pun yang akan membantah bahwa keberhasilan seseorang, baik olahragawan maupun trader Forex juga ditentukan oleh tingkat wawasan mereka. Memang kedua ilmu ini berbeda, dan tanpa berbekal ilmu yang dibutuhkan keberhasilan tidak mungkin akan bisa diraih. Misalnya, dalam olahraga tinju, petinju pastinya dibekali ilmu tentang cara memukul lawan, cara menghindari serangan atau bagaimana cara melakukan gerakan tipuan dsb. Sementara dalam dunia trading Forex, ini adalah tentang pemahanan pergerakan pair mata uang, sistem trading, money management dan psikologi trading.

Jadi, poin yang dimaksud di atas adalah ilmu pengetahuan. Namun, cukupkah hanya dengan berbekal teori saja? Jika seorang petinju bertarung dalam ring berbekalkan hanya teori saja, maka dia akan dengan mudah untuk dikalahkan. Sementara bagi trader pemula yang hanya belajar trading dengan teorinya saja, bahkan dengan mengikuti berbagai video seminar sekali pun, tetap saja akan mudah merugi saat memulai transaksi di terminal, entah itu seketika ataupun setelah melalui beberapa upaya. Kesimpulannya, baik di Forex maupun tinju, keduanya membutuhkan teori yang bagus, meskipun ini tidaklah cukup.

Lalu, apa pendekatan yang lainnya? Adalah praktik. Inilah yang mungkin dianggap remeh oleh kebanyakan trader maupun petinju pemula. Bagi seorang petinju, tentunya perlu untuk melatih ketrampilan pukulannya, kemudian mencobanya latih tanding di ring. Percobaan untuk latih tanding dengan lawan juga sangat diperlukan, meski hanya untuk beberapa kali sebagai pemula. Penggambaran tinju ini bisa dijadikan contoh, seorang trader harus mampu menerapkan pengetahuan trading mereka dalam praktik. Sistem trading harus dibangung secara terstruktur dengan strategi yang jelas, seperti pemahaman entry dan exit market, prinsip kerja dari order Stop Loss, risiko terhadap transaksi yang dilakukan dsb. Untuk melatih strategi trading tersebut, trader bisa menggunakan akun demo sebelum menginjak market dengan akun trading yang sebenarnya. Ini juga ditujukan untuk meredam efek negatif dari emosi yang berlebihan—seperti ketakutan dan keserakahan—sejak dini. Trader juga harus mampu menyelesaikan ratusan transaksi pada strategi yang diuji, tidak hanya satu-dua transaksi saja. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apabila ingin mempercepat proses pengujian ini, trader bisa menerapkan sebuah penguji strategi. Ini bukan sebuah pasar yang sebenarnya, tetapi setidaknya trader bisa mensimulasikannya dengan cukup akurat, dan yang terpenting ialah menguji dan mengembangkan strategi trading secara lebih cepat.

Sekarang kita asumsikan sang petinju yang telah lama berlatih di ring, atau trader di akun demo atau penguji ini memutuskan untuk mencoba bertarung di arena yang sesungguhnya. Pada sebuah kondisi yang terbilang menguntungkan, trader berhasil membuat transaksi yang profitable, dan otomatis meningkatkan modalnya. Tapi sayangnya, trader langsung berpikir bahwa dia sudah banyak tahu dan bisa melakukannya dengan mudah, bahkan dia merasa pasar pun seolah tunduk kepadanya. Begitu pula dengan sang petinju, dia sukses melawati pertarungan dengan brilian, dan langsung membayangkan sabuk emas Olimpiade di depan mata. Kini baik trader maupun petinju, keduanya jauh menjadi lebih percaya diri. Trader meningkatkan jumlah transaksinya, sebab dia merasa sudah berpengalaman dan memahami betul kondisi pasar. Sedangkan petinju meningkatkan risiko dengan melepas alat pelindung.

Bagaimana selanjutnya? Situasi pasar telah berubah, termasuk sekelilingnya. Trader yang sebelumnya meraup profit harus rela melihat saldo deposit-nya menyusut, tetapi keinginannya untuk segera memenangkannya kembali sangat tinggi, padahal ini justru mempercepat proses kebangkrutannya. Seandainya trader benar demikian—tidak mengontrol nafsu tingginya—maka dia hanya akan melihat lubang besar di akunnya. Begitu halnya dengan si petinju, pertarungannya kini tidak segampang sebelumnya. Dia menganggap enteng lawan tandingnya, tetapi malah K.O, tergeletak dan tidak muncul pada pertandingan berikutnya.

Kira-kira apa yang membuat mereka berdua gagal? Meski mereka sudah banyak tahu dan memiliki pengalaman, tetapi ternyata masih belum cukup juga. Lalu, apa lagi yang harus diperhatikan? Petinju memiliki seorang pelatih yang dapat memberitahunya apa yang harus dilakukan, apa yang harus digali dan apa yang harus dilatih lagi. Bagaimana dengan trader? Jika memiliki pembimbing, maka akan sangat membantu. Tapi jika tidak maka ‘terpaksa’ harus mengklarifikasinya dan mengidentifikasi penyebabnya secara mandiri. Kemudian, menerapkan berbagai macam strategi trading yang baru, menyesuaikannya dengan setiap perilaku pasar, menganalisis dan mempertimbangkannya berulang kali. Penting sekali untuk bisa memahami berbagai macam perubahan dari sudut pandang yang berbeda. Sebab, pandangan atau opini masih jauh dari kata aktual. Pengasumsian opini menjadi fakta yang akan terjadi selalu mengantar ke arah yang merugi dan berujung pada kegagalan. Ini berlaku baik dalam trading maupun tinju.

Jika ingin meraih kesuksesan, baik di dunia olahraga maupun Forex, Anda tentunya harus bekerja keras, dan itu bisa membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, Anda juga harus mempersiapkan secara psikologis bahwa semuanya ada risikonya. Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan ini. Oleh karena itu, juara dan trader sukses jumlahnya tidak begitu banyak. Di luar itu semua, jika bisa mengatasi kelemahan sendiri dan memahaminya dengan sangat baik, maka petinju yang menyelesaikan ratusan pertandingan di ring pada akhirnya bisa menjadi juara juga. Demikian pula dengan trader yang telah mengembangkan strategi trading-nya sendiri, perlu belajar tidak hanya dalam menyelesaikan transaksi dengan benar, tetapi juga memahami bagaimana mengola waktu yang tepat untuk bertransaksi, dan menyelesaikannya tanpa emosi yang berlebihan, dengan begitu tingkat kesuksesan dalam bertransaksi akan jauh lebih tinggi.

Jadi, kalimat yang tepat untuk menyimpulkan Forex dan olahraga mungkin adalah “trading Forex mirip dengan olahraga”. Satu lagi kemiripan sifat antara pasar keuangan dan olahraga adalah peluang atau kemungkinan. Sekali pun seorang petinju menghabiskan ribuan jam untuk berlatih, belum tentu akan menjuarai Olimpiade. Sama halnya dengan trader, biarpun trader menganalisis pasar selama ribuan jam sekali pun, tidak menjamin dia akan menjadi trader terbaik.

Jadi, apakah cukup dengan diam di rumah tanpa melakukan apa-apa dengan harapan semuanya akan datang dengan sendirinya? Tentu saja tidak! Jika Anda memiliki tujuan, baik itu di dunia trading ataupun olahraga, harus mengejarnya sampai hasil yang terbaik. Apa pun perjuangan Anda pasti akan ada hasilnya, dan ini lebih baik daripada hanya berpikir atau menyimpulkan lebih dini bahwa kesempatan itu kecil, dan kemudian menyerah begitu saja.

Bagikan:

Artikel Lainnya

Forex tanpa Modal

6 Juni, 03:00

Nadezhda Molokanova, klien Alpari

Dependensi Mata Uang

28 Maret, 03:00

Nadezhda Molokanova, klien Alpari

Ada situs web yang lebih cocok untuk kamu

Situs web baru dengan layanan yang lebih sesuai untuk lokasimu baru saja diluncurkan!

Daftar di sini dan dapatkan Bonus Sambutan 30%.